Kamis, 06 Desember 2018

Reuni Akbar 212 Membuat Takjub Bangsa-Bangsa Islam Di Dunia



Tulisan Syaikh Mahmud Sayyid (Mesir) terkait Reuni 212:

“Kalaulah kaum muslimin pergi ke Arofah untuk melaksanakan syiar Allah, maka orang Indonesia keluar ke lapangan ibu kota mereka untuk meninggikan kalimat Allah. Indonesia di hatiku sampai aku mati.”

(Syaikh Mahmud Sayyid)

Masya Allah, Subhanallah Wabihamdih..

Pembawa Kejayaan Akhir Zaman akan Datang dari Arah Timur.

Syaikh Dr.

Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina, saat berkunjung ke Indonesia -seperti diututurkan oleh Ustadz Salim A Fillah- mengabarkan bahwa kejayaan akhri zaman akan datang dari arah timur.

“Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maroko sampai Merauke.”

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Indonesia. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam,” ujar beliau.
[portalislam]

Minggu, 30 Juli 2017

Rahasia Iblis Dan Bala Tentaranya Dicegah Naik Ke Langit


Iblis dan Bala Tentaranya Dicegah Naik ke Langit


Sahabat 1001-Kisah Islami-Dalam Kitab Al-Jami Liakam Al-Qur'an, dijelaskan bahwa ada 2 hal yang dapat menyebabkan Iblis memekik dengan kerasnya serta menangis dengan tangisan yang memilukan.



Pertama, adalah ketika diturunkannya Surat Al Fatihah, yang mana surat ini adalah surat yang paling afdhal atau lebih utama di dalam Al Qur'an.



Kedua, Pada saat Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Beliau adalah makhluk yang paling mulia sejagat raya ini.


Karena berkat bimbingan beliau, orang yang sudah memiliki atau berbuat dosa setumpuk gunung pun bisa terhapus hanya dengan mengucapkan syahadat saja.




Dikelilingi Malaikat.


Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabi'ul Awal di Tahun Gajah, rupanya telah menjadi pukulan tersendiri bagi Iblis dan bala tentaranya. Bagaimana tidak, jika sebelumnya jin-jin bisa leluasa turun naik ke langit dan mencuri percakapan malaikat, maka sejak Rasulullah SAW lahir, maka mereka tidak bisa melakukannya kembali.

Ketika Iblis dan bala tentaranya dilarang naik ke langit, maka mereka berkumpul untuk membahasnya.

Mereka berkata,
"Dahulu kami bisa naik ke langit, akan tetapi hari ini kami telah dilarang untuk naik."

Iblis menjawab,
"Menyebarlah kalian semuanya di muka bumi dari barat sampai timur, dan perhatikanlah dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi."

Setan-setan itu kemudian menyebar, dan akhirnya setelah mengelilingi muka bumi dari barat ke timur, sampailah mereka ke kota Makkah. Di sana tampak oleh mereka ada bayi kecil mungil yang dikelilingi oleh ribuan malaikat. Bayi tersebut memancarkan cahaya yang sangat terang hingga mencuat ke ujung langit. Sedangkan para malaikat satu persatu mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Begitu para setan mendekati bayi mungil itu, belum sampai ke tempat, ada malaikat Jibril yang menendangnya hingga terlepar jauh sampai ke Aden.

Iblis Berteriak dengan Sangat Dahsyat.

Setelah melihat kejadian itu, setan-setan segera kembali menghadap Iblis dan menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan di kota Makkah.

"Sesungguhnya telah lahir seorang bayi yang memancarkan cahaya yang sangat terang, bayi itu dikelilingi ribuan malaikat yang memberikan ucapan selamat," ujar salah seorang setan.

Mendengar hal itu, iblis pun berteriak dengan suara yang sangat dhsyat,
"Aaaaahhhh......!!! Telah keluar 'Ayatul Alam' dan rahmat bagi bani Adam...!!!"
"Karena itulah kalian semua telah dicegah untuk naik ke langit," kata Iblis setelah berteriak.

Memang benar, setelah Rasulullah lahir ke muka bumi, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menutup tujuh pintu langit dan menjaganya dari jin dan iblis. Sehingga mereka tidak bisa mencuri dengar perbincangan para malaikat dan berita dari langit lagi.

Kenapa Setan Mencuri Dengar Berita dari Langit.
Tak lain adalah untuk menyesatkan manusia, anak turun Nabi Adam as.
Kalau sebelumnya mereka mencuri dengar berita dari langit dan bersekongkol dengan para dukun untuk menyesatkan manusia, saat itu pula tidak bisa lagi mencuri dengar.

[Play Store Apps 100 Kisah Islami]

Senin, 27 Juni 2016

Berlomba-Lomba Dalam Kabaikan



Bersegera Kepada Kebaikan Dan Menganjurkan Kepada Orang Yang Menuju Kebaikan Supaya Menghadapinya Dengan Sungguh-sungguh Tanpa Keragu-raguan

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka berlumba-lumbalah engkau sekalian untuk mengerjakan berbagai kebaikan." (al-Baqarah: 148)

Allah Ta'ala berfirman pula:

"Dan bersegeralah engkau sekalian menuju pada pengampunan dari Tuhanmu dan juga memasuki syurga yang luasnya adalah seperti langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa." (ali-lmran: 133)

Adapun Hadis-hadisnya ialah:

Pertama

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Bersegeralah engkau sekalian untuk melakukan amalan-amalan - yang bagus-bagus - sebelum datangnya bermacam-macam fitnah yang diumpamakan sebagai potongan-potongan dari malam yang gelap gulita." [10]

Berpagi-pagi seseorang itu menjadi orang mu'min dan berpetang-petang menjadi orang kafir, ada lagi yang berpetang-petang masih sebagai seorang mu'min, tetapi berpagi-pagi telah menjadi seorang kafir. Orang itu menjual agamanya dengan harta dari keduniaan." (Riwayat Muslim)

Kedua

Dari Abu Sirwa'ah (dengan kasrahnya sin yang muhmalah dan boleh pula dengan difathahkannya), iaitu 'Uqbah bin al-Harits r.a., katanya: "Saya bersembahyang di belakang Nabi s.a.w. di Madinah yakni shalat 'ashar. Kemudian setelah bersalam lalu berdiri bergegas-gegas, terus melangkahi leher orang-orang banyak untuk menuju ke salah satu bilik isterinya. Orang-orang banyak yang takut kerana melihat bergegas-gegasnya beliau itu. Selanjutnya Nabi s.a.w. keluar lagi menemui sahabat-sahabatnya itu lalu mengetahui bahawa mereka itu benar-benar terhairan-hairan kerana bergegas-gegasnya tadi. Beliau s.a.w. lalu bersabda:

"Saya ingat pada sepotong emas yang ada di tempatku, maka saya tidak senang kalau benda itu mengganggu fikiranku - untuk menghadap Allah Ta'ala. Oleh sebab itu saya menyuruh supaya benda tadi dibahagi-bahagikan." (Riwayat Bukhari)

Dan disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari yang lain demikian: "Saya meninggalkan di rumah sepotong emas dari hasil sedekah, maka saya tidak senang kalau sampai menginapkannya."

At-tibru, ertinya ialah potongan-potongan emas atau perak.

Ketiga








Dari Jabir r.a., katanya: Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w. pada hari perang Uhud: "Bagaimanakah pendapat Tuan jikalau saya terbunuh, di manakah tempatku?" Nabi s.a.w. bersabda:

"Dalam syurga."

Orang tersebut lalu melemparkan beberapa buah kurma yang masih di tangannya kemudian berperang sehingga ia dibunuh - mati syahid." (Muttafaq 'alaih)

Keempat

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, sedekah manakah yang teragung pahalanya?" Beliau s.a.w. bersabda:

"Iaitu jikalau engkau bersedekah, sedangkan engkau itu masih sihat dan sebenarnya engkau kikir - merasa sayang mengeluarkan sedekah itu, kerana takut menjadi fakir dan engkau amat mengharap-harapkan untuk menjadi kaya. Tetapi janganlah engkau menunda-nunda sehingga apabila nyawamu telah sampai di kerongkong lalu berkata: "Untuk si Fulan itu, yang ini dan untuk si Fulan ini, yang itu, sedangkan orang yang engkau maksudkan itu telah memiliki apa yang hendak kau berikan." (Muttafaq 'alaih)

Hulqum adalah jalan pernafasan sedang mari' adalah jalan makan dan minuman.

Kelima

Dari Anas r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengambil pedangnya pada hari perang Uhud, kemudian bersabda: "Siapakah yang suka mengambil pedang ini daripadaku?" Orang-orang sama mengacungkan tangannya masing-masing, yakni setiap orang dari sahabat-sahabat itu berbuat demikian sambil berkata: "Saya, saya." Beliau berkata lagi: "Siapakah yang dapat mengambilnya dengan menunaikan haknya?" Orang-orang semuanya berdiam diri. Selanjutnya Abu Dujanah - namanya sendiri Simak bin Kharsah - berkata: "Saya dapat mengambil pedang itu dengan menunaikan haknya." Pedang itu lalu digunakan oleh Abu Dujanah untuk memenggal kepala-kepala kaum musyrikin." (Riwayat Muslim)

Keenam

Dari Zubair bin 'adiy, katanya: "Kita semua mendatangi Anas bin Malik r.a., kemudian kita mengadukan padanya perihal apa yang kita temui dari perlakuan Hajjaj - seorang panglima dari dinasti Bani Umayyah dan ia adalah seorang zalim, lalu Anas berkata: "Bersabarlah engkau sekalian, sebab sesungguhnya saja tidaklah datang sesuatu zaman melainkan apa yang sesudahnya itu tentu lebih buruk daripada zaman itu sendiri, demikian itu sehingga engkau sekalian menemui Tuhanmu. Ucapan semacam ini pernah saya dengar dari Nabimu sekalian s.a.w. (Riwayat Bukhari)

Ketujuh

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Bersegeralah engkau sekalian melakukan amalan-amalan -yang baik - sebelum datangnya tujuh macam perkara. Apakah engkau sekalian menantikan - enggan melakukan dulu, melainkan setelah tibanya kefakiran yang melalaikan, atau tibanya kekayaan yang menyebabkan kecurangan, atau tibanya kesakitan yang merosakkan, atau tibanya usia tua yang menyebabkan ucapan-ucapan yang tidak keharuan lagi, atau tibanya kematian yang mempercepatkan - lenyapnya segala hal, atau tibanya Dajjal, maka ia adalah seburuk-buruk makhluk ghaib yang ditunggu, atau tibanya hari kiamat, maka hari kiamat itu adalah lebih besar bencananya serta lebih pahit penanggunggannya."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

Kelapan

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda pada hari perang Khaibar:

"Nescayalah bendera ini akan kuberikan kepada seseorang lelaki yang mencintai Allah dan RasulNya, Allah akan membebaskan - beberapa benteng musuh - atas kedua tangannya."

Umar r.a. berkata: "Saya tidak menginginkan keimarahan -kepemimpinan di medan perang - melainkan pada hari itu belaka kemudian saya bersikap untuk menonjolkan diri pada Nabi s.a.w. dengan harapan agar saya dipanggil untuk memegang bendera itu.

Tiba-tiba Rasulullah s.a.w. memanggil Ali bin Abu Thalib r.a., lalu memberikan bendera tadi padanya dan beliau s.a.w. bersabda:

"Berjalanlah dan jangan menoleh-noleh lagi sehingga Allah akan membebaskan - benteng-benteng musuh - atasmu."

Ali berjalan beberapa langkah kemudian berhenti dan tidak menoleh, kemudian berteriak:

"Ya Rasulullah, atas dasar apakah saya akan memerangi para manusia?" Rasulullah s.a.w. menjawab:

"Perangilah mereka sehingga mereka suka menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad adalah pesuruh Allah. Apabila orang itu telah berbuat demikian, maka tercegahlah mereka itu daripadamu, baik darah dan harta mereka, melainkan dengan haknya, sedang hisab mereka itu adalah tergantung pada Allah." (Riwayat Muslim)

Fatasaawartu, dengan sin muhmalah (yakni sin tak bertitik dan bukan syin yang bertitik tiga di atas), ertinya: "Saya melompat ke muka untuk menampakkan diri."

Keterangan:

Maksud dari Hadis di atas itu ialah bahawa yang diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. kepada Sayidina Ali r.a. dan seluruh pasukannya ialah memerangi manusia-manusia musyrik yakni yang menyembah selain Allah atau yang tidak mempercayai adanya Allah serta keesaanNya dan tidak pula mempercayai tentang diutusnya Nabi Muhammad s.a.w. Tetapi apabila mereka suka mengikuti seruan agama Islam yang benar, sama sekali tidak boleh diganggu, baik keselamatan jiwa atau pun harta mereka.

Namun demikian, manakala hak atau ketentuan agama Islam menghendaki, boleh saja seseorang itu dibunuh, seperti orang yang sengaja membunuh orang lain. Jadi sekalipun sudah masuk Islam wajib pula dibunuh sebagai qishash atau balasan pembunuhannya. Demikian pula seperti dipotong tangan kerana mencuri yang sudah mencapai batas untuk bolehnya dipotong atau pun diberi hukuman pukul (didera) serta direjam, menurut ketentuannya sendiri-sendiri, jika melakukan perzinaan dan lain-lain lagi. Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Nabi s.a.w.

"Kecuali dengan haknya."

Mengenai hisab atau perhitungan amal perbuatan mereka adalah menjadi urusan Allah Ta'ala sendiri.

Perlu dimaklumi bahawa golongan Ahlulkitab yakni kaum yang beragama Nasrani atau Yahudi, tidak boleh secara langsung diperangi. Mereka diperbolehkan memilih salah satu di antara dua hal yakni membayar pajak. Ini adalah pilihan yang pertama. Jika mereka suka melaksanakan itu, mereka pun wajib dilindungi keselamatan diri dan hartanya. Tetapi jikalau enggan, maka pilihan kedua boleh dilaksanakan, iaitu boleh diperangi.


Disarikan dari Kitab Riyadhus Shalihin.

Kamis, 16 Juni 2016

Keutamaan Shalat Tarawih dan Rahasianya

Assalamualaikum Warahmatullahhiwabarakatuhu...

Sahabat 1001-kisah Islami... Solat Tarawih adalah solat yang dikerjakan pada malam-malam dalam bulan Ramadhan al-Mubarak dan waktu mengerjakannya adalah selepas solat Isyak dan sebelum solat Witir. Solat Tarawih adalah salah satu daripada ibadah-ibadah dalam bulan Ramadhan yang penuh berkat dan paling besar kesannya dihati kaum Muslimin. Ia juga mempunyai darjat dan keutamaan yang dirahsiakan oleh Allah s.w.t. 
                        Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Sesiapa beribadat pada malam-malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan akan pahala deripada Allah (s.w.t.), nescaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah (s.w.t.)."    (Riwayat al-Bukhari)

1. Barang Siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam pertama (1 Ramadhan), Allah SWT akan mengampuni dosanya seperti bayi baru dilahirkan ibunya.

2. Barang siapa yang melaksanakan sholat Tarawih pada malam ke 2, Allah SWT Akan mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

3. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 3, Malaikat akan memanggil dari bawah Arsy dan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu.

4. Barang siapa yang melaksanakan sholat Tarawih pada malam ke 4 , maka pahalanya seperti pahala orang yang membaca kitab Taurat, kitab Jabur, kitab Injil, dan Kitab suci Alqur'an.

5. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 5, Allah SWT akan memberikan pahala seperti orang yang sholat di Masjidil Haram dan Masjidil Aqso.

6. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 6 , Allah SWT akan memberikan pahala seperti orang yang Thowaf di Baitul Ma'murdan.

7. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 7, Allah SWT akan memberikan pertolongan seperti pertolongan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dari Fir'aun dan Hamman.

8. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 8, Allah SWT akan memberikan pahala seperti pahala yang telah Allah SWT berikan kepada nabi Ibrahim AS.

9. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 9, Allah SWT akan memberikan pahala seperti pahala ibadahnya Nabi Muhammad SAW.

10. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 10, Allah SWT akan memberikan rizki kebaikan dunia akhirat.

11. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 11, maka ketika ia keluar dari dunia seperti baru dilahirkan dari perut ibunya.

12. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 12, maka ia datang pada hari kiamat dengan wajahnya seperti bulan purnama.

13. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 13, maka ia akan datang pada hari kiamat diselamatkan dari setiap kejelekan.

14. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 14, malaikat akan datang dan mereka bersaksi bahwa dia shalat Tarawih. Maka Allah SWT tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.

15. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 15, malaikat Rahmat, Arsy, dan Kursy akan membaca shalawat kepadanya.

16. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 16, Allah SWT akan menulisnya bebas dari neraka dan masuk ke dalam surga.

17. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 17. Allah SWT akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala para nabi.

18. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 18, Malaikat akan memanggilnya:"Wahai Hamba Allah SWT, sesungguhnya Allah SWT Ridho pada engkau.

19. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 19, Allah SWT akan mengangkat derajatnya dalam surga firdaus.

20. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke 20, Allah SWT akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala para sahabat.

21. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 21, Allah SWT akan membangun Rumah untuknya disurga yang terbuat dari cahaya.

22. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 22, ia akan datang pada hari   kiamat dan diselamatkan dari berbagaikesusahan..

23. Barang siapa yang melaksanakan shalatTarawih pada malam ke 23, Allah SWT akan membangun sebuah kota disurga untuknya.

24. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 24, Allah SWT akan mengabulkan dari 24 Doanya.

25. Barang siapa yang melaksanakan shalatTarawih pada malam ke 25, Allah SWT akan mengangkat baginya dari siksa kubur.

26. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 26, Allah SWT akan mengangkat pahalanya selama 40 tahun.

27. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 27, ia akan berjalan dijembatan Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar.

28. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 28, Allah SWT akan
mengangkatnya 1000 (Seribu) derajat didalam surga.

29. Barang siapa yang melaksanakan shalatTarawih pada malam ke 29, Allah SWT akan mengabulkan 1000 (Seribu) Hajatnya.

30. Barang siapa yang melaksanakan shalat
Tarawih pada malam ke 30, Allah SWT berfirman,"Wahai Hambaku, makanlah dari buah-buahan surga dan mandilah di sungai Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar" kemudian Allah SWT berfirman:"Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

 
Semoga bermanfa'at. Aamiin

Rabu, 15 Juni 2016

Amalan Dibulan Ramadhan

Assalamualaikum Warahmatullahhiwabarakatuhu...

ÙŠَاأَÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ أمَÙ†ُوا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِينَ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ (البقرة: 183)

Di Bulan Ramadhan, selain melaksanakan ibadah yang wajib seperti berpuasa dan sholat, ada beberapa amalan ibadah sunat lainnya yang dapat kita praktekan di keseharian kita. Dengan mendampingkan ibadah wajib dengan ibadah sunnah, pada akhir bulan Ramadhan kita dapat merasakan hari kemenangan (Idul Fitri) dengan penuh sukacita. Ingin tahu apa saja amalan ibadah penyempurna Ibadah puasa ini? Mari kita simak bersama.

1. Membaca Al-Qur’an

Seperti yang sudah sering diungkapkan bahwa ibadah pada bulan puasa pahalanya dilipatgandakan, begitu juga dengan membaca Al-Quran. Diriwayatkan, membaca Al-Quran pada bulan Ramadhan memiliki keutamaan bahwa tiap huruf yang kita baca akan mendapat pahala sebanyak 27 kali. Tidak hanya membaca saja, sekedar mendengar bacaan Al-Qur’an saja bagi umat muslim adalah pahal, maka perbanyaklah mendekatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan bacaan Al-Qur’an selama bulan suci Ramadhan.
Bahkan tidak hanya mendengar atau membaca, bila kita masih terbata-bata (belum lancar) dalam membaca Al-qur’an pun, kita akan mendapatkan pahala, diluar maupun didalam bulan Ramadhan.

2. Sedekah

Penyempurna ibadah puasa Ramadhan lainnya ialah bersedekah. Diriwayatkan dalam hadist shahih:
Rasullah ditanya: “sedekah manakah yang paling utama? beliau menjawab: Sedekah di Bulan Ramadhan.” (H.R. Turmudzi). 
Maka dari itu daripada sering-sering bermegah dengan harta yang kita miliki, lebih baik harta yang kita miliki kita sisihkan sebagian untuk para fakir miskin  yang membutuhkan. Apalagi bulan Ramadhan juga bulan dimana amal baik dilipatgandakan pahalanya disisi Allah SWT.

3. Shalat Tarawih

Amalan ibadah yang satu ini termasuk sunnah muakad artinya tidak wajib, namun sayang sekali pada kesempatan bulan Ramadhan dimana pahala dilipatgandakan ini kita tidak melaksanakan amalan sunnah. Maka daripada setelah berbuka dan magrib kita hanya sekedar bengong atau tidur, lebih baik melakukan shslat tarawih.
Kita bisa mengajak keluarga atau bahkan sesekali kawan-kawan untuk shalat tarawih bersama sebagai bentuk silaturahmi yang berpahala juga. Maka belum afdol rasanya bila melaksanakan puasa Ramadhan tanpa melaksanakan shalat tarawih.
Shalat tarawih ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan puasa Ramadhan dan aku telah mensunatkan qiyamnya (shalat di malam harinya). karena itu, barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dan shalat dimalah harinya karena iman dan mengharap pahala serta ridha Allah, maka keluarlah dosanya sebagaimana pada hari dia dilahirkan oleh ibunya” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).

4. Shalat Witir

Shalat witir umumnya dilaksanakan sekaligus setelah tawarih dilakukan. Seperti tarawih, sholat witir juga hukumnya sunnah muakad dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw untuk dilakukan tiap malam.
Ali r.a. berkata, bahwasannya Nabi saw. pernah bersabda: “barang siapa tidak mengerjalan (shalat) witir, maka bukan dari golonganku.” (H.R. Ahmad). 
Begitu pentingnya shalat witir ini terungkap seperti hadist diatas. Jadi bila kita melaksanakan shalat tarawih, agar lebih sempurna lagi dirikanlah pula shalat witir setelahnya, Insha Allah ibadah-ibadah ini merupakan jalan menuju kesempurnaan puasa Ramadhan.

5. Itikaf

Ibadah lainnya yaitu adalah Beritikaf (berdiam sejenak di masjid dengan niat itikaf). ibadah ini disunahkan dilakukan pada setiap waktu, terutama pada sepuluh hari terakhir karena pada 10 terakhir Ramadhan dan malam-malam ganjil terdapat malam “lailatul Qadr.”

 
Semoga bermanfa'at.... Aamiin

Senin, 30 Mei 2016

Teladan dari Kondisi Negara Islam dibawah Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw

Teladan dari Kondisi Negara Islam dibawah Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw










Oleh : Muhammad Yusron Mufid

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Q.S. Al Ankabut : 2-3)

Sebagai muslim, tentu tidak ada yang patut kita teladani selain peri kehidupan nabi Muhammad S.A.W. dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam hal ritual tetapi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Seorang ilmuwan barat bernama Michael Hart menempatkan pribadi nabi Muhammad sebagai orang nomor 1 dari daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia mengatakan salah satu alasannya meskipun umat Islam bukanlah pemeluk agama terbanyak di dunia namun pribadi Muhammad bukan hanya sosok pemimpin spiritual, tetapi adalah seorang pemimpin politik dan seorang Negarawan. Meskipun sosoknya telah tiada, akan ada umat Islam yang meneruskan misi perjuangannya hingga hari kiamat tiba.

Menjadikan nabi Muhammad sebagai teladan berarti menjadikan beliau sebagai acuan dalam membangun cara hidup Islam. Jika kita mengamati pelaksanaan Islam dimasa Rasulullah maka kita akan tahu bahwa Islam yang Rasulullah ajarkan bukanlah Islam yang hanya terpusat kepada ibadah ritual saja melainkan adalah sistem hukum efektif yang berlaku di masyarakat. Bangunan Islam awal yang Rasulullah bangun di Madinah ditegakkan dengan pilar adanya masyarakat Islam yaitu warga Madinah, Pemerintahan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah, dan wilayah kekuasaan meskipun di periode awal dalam lingkup yang kecil yaitu wilayah madinah dan sekitarnya. Dengan demikian, pemberlakuan Islam di masa Rasulullah telah memenuhi unsur berdirinya sebuah Negara dengan adanya rakyat, pemerintahan dan wilayah kekuasaan. Sebuah Negara Islam dibawah kepemimpinan langsung Rasulullah Muhammad S.A.W.

Membayangkan Negara Islam di masa nabi pada awal berdirinya bukanlah Negara Islam (Kekhilafahan) pada masa Harun Ar Rasyid yang konon kehidupan pada waktu itu makmur dan kekayaan melimpah. Namun ternyata identik dengan perjuangan dan ketabahan. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar orientasi yang dibangun untuk menegakkan Kekhilafahan Islam bukanlah untuk kemakmuran materi dan kemapanan ekonomi belaka tetapi orientasi utama adalah sebagai sarana untuk melaksanakan tauhid, kewajiban menyembah Allah, merealisasikan hukum-hukum dan syariatNya serta mengemban dakwah Islam seantero muka bumi. Disini saya akan bercerita sedikit bahwa para sahabat rela meninggalkan tanah air dan tumpah darahnya ke negeri yang seperti “Neraka” bukan karena sumber daya alam melimpah di negeri tersebut, motif ekonomi dan perut belaka akan tetapi demi ketulusan iman mereka, demi pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya. Mari kita simak.

Dari sisi kesehatan, negeri madinah pernah Allah berikan cobaan kepada penduduknya dengan wabah demam. Demam yang amat menyiksa para penduduknya terutama oleh kaum muhajirin yang memang tak terbiasa dengan cuaca di negeri lain. Seperti yang digambarkan oleh sahabat Am’r bin Ash ia berkata, “Ketika tiba di Madinah banyak dari kami yang meninggal dunia karena demam yang tinggi. Sampai ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar para sahabat sedang shalat sunnah sambil duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat sambil duduk pahalanya separuh shalat sambil berdiri.”

Selain itu, Sahabat yang mulia Bilal pernah mendoakan laknat kepada para pembesar Negeri Mekkah yang telah mengusir mereka ke Negeri yang dilanda wabah penyakit yaitu negeri Madinah. Seperti yang dikisahkan Aisyah dalam Shahih Bukhari “Ya Allah laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi‟ah dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka mengusir kami dari negeri kami ke negeri yang penuh wabah penyakit.”

Bahkan dari sebuah riwayat dari HR Bukhari disebutkan bahwa ada beberapa orang Islam yang kembali murtad karena tidak tahan terhadap wabah penyakit yang sedang melanda negeri Islam tersebut. Berkat Kejadian ini, Rasulullah bersabda bahwa hal ini adalah tabiat negeri Islam madinah yang dengannya akan menjadi proses seleksi siapa hamba-hambaNya yang tulus mencintai Allah dan RasulNya.
“Saya diperintahkan hijrah ke sebuah daerah yang memiliki banyak keutamaan dibanding daerah- daerah yang lain. Orang-orang menamakan tempat itu dengan nama Yatsrib. Itulah yang sekarang bernama Madinah. Ia menyeleksi manusia sebagaimana al-kiir menghilangkan bagian dari besi yang buruk.” (HR Bukhari).

Tak hanya dari sisi kesehatan, pun halnya dari sisi ekonomi. Dalam Shahih Muslim, ada riwayat dari Abu Sa‟id maula Al-Mahri, bahwa ia mendatangi Abu Sa‟id Al-Khudhriy pada malam yang panas. Ia meminta saran kepada Abu Sa‟id Al-Khudhriy akan meninggalkan Madinah dan mengeluhkan harga barang-barang yang mahal, keluarganya yang banyak dan memberi tahunya bahwa ia tidak sabar lagi menanggung kesulitan dan ujian Madinah. Maka Abu Sa‟id Al- Khudhriy menjawab, “Celaka kamu, saya tidak menyuruhmu melakukannya. Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seseorang bersabar menahan rasa lapar di Madinah lalu meninggal dunia melainkan saya akan menjadi penolong (syafii‟) atau saksi (syahiid) baginya kelak pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”

Bahkan diriwayatkan Dalam Shahih Bukhari pada suatu ketika bahwa para tamu mulia di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana seluruh sahabat melihat mereka jatuh tersungkur karena sakit saking laparnya, tidak punya apa-apa. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang paling baik terhadap orang-orang miskin adalah Ja‟far bin Abu Thalib. Ia sering mengunjungi kami dan memberikan makanan kepada kami apa saja yang ada di dalam rumahnya. Sampai ia pernah memberikan ukkah (bejana kecil terbuat dari kulit biasanya untuk wadah mentega) yang sudah tidak ada apa- apanya, lalu kami menyobekinya kemudian kami menjilati apa yang tersisa”

Perlu para pembaca ketahui bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang diriwayatkan pada cerita diatas baru datang ke Negeri Islam Madinah adalah setelah penaklukkan benteng Khaibar yaitu 7 tahun setelah berdirinya negeri Islam Madinah. Artinya dalam waktu 7 tahun kelaparan masih melanda negeri kaum muslimin.

Bahkan pemimpin Negaranya sendiri, manusia mulia Rasulullah S.A.W tak luput dari deraan rasa lapar yang luar biasa seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim ‘dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Pada sauatu hari saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya mendapati beliau sedang duduk berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Dan beliau mengikat perutnya dengan sebuah perban. Usamah berkata, “-Saya ragu-ragu- dengan sebuah batu.” Saya bertanya kepada beberapa sahabat, “Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat perutnya?” Mereka menjawab, “Karena lapar.”

Dari sisi keamanan pun Negara Islam dimasa Rasulullah ada dalam kondisi terhimpit dari segala penjuru oleh kepungan musuh-musuhNya, seperti yang diucapkan oleh pemimpin kaum Anshar kepada pengikutnya ketika mereka mempertimbangkan akan melindungi Rasulullah bahwa mereka akan menjadi musuh bersama segenap bangsa Arab. Penuh resiko militer dari penyerbuan mereka. Hingga akhirnya mereka paham dan tetap dengan Ikhlas mebaiat Rasulullah. Pun ketika Rasulullah dan para sahabatnya sudah di Madinah tetap dihantui rasa kecemasan terhadap keamanan hingga Rasulullah selalu membawa senjata di pinggangnya dan para sahabat menjaga Rasulullah di waktu malam.

Demikianlah gambaran singkat Kondisi Daulah Nabawiyah di masa awalnya yang amat memprihatinkan, saya tidak bisa membayangkan akan berapa kali Rakyat Madinah melakukan demonstrasi kepada Rasulullah karena urusan perut dan uang jika pola pikir mereka seperti rakyat sekarang. Ini juga menjadi pelajaran bagi Gerakan Islam yang memiliki cita-cita mulia yaitu tegaknya Kekhilafahan Islam bahwa para sahabat bisa begitu tabah dan sabar menghadapi kondisi yang demikian karena keberhasilan proses penanaman pemahaman (Tarbiyah) dari Rasulullah yang berorientasi kepada tauhid dan akidah Islam. Bukan karena iming-iming ekonomi, penguasaan SDA, BBM Murah, pendidikan terjangkau, bebas pajak, serta kemakmuran materi lainnya. Melainkan pendidikan yang ditanamkan Rasulullah kepada para sahabat adalah tentang tujuan hidup bahwa mereka diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukanNya, tunduk kepada hukum-hukum dan syariatNya, mereka hidup untuk menjalani ujian, akan adanya hidup setelah mati serta keyakinan terhadap janji Allah akan menjayakanNya dimuka bumi jika bersabar dalam menjalani ujian dan kesulitan. Pemahaman itulah yang membuat para sahabat begitu tegar menghadapi segala bentuk musibah dan ujian.

Ini juga sebagai kritik kepada mereka yang menyatakan bahwa negara Islam layak berdiri ketika sudah benar-benar mampu melayani kebutuhan masyarakat baik pangan, sandang dan papan. Lalu bagaimana keadaan Negara Islam zaman Rasulullah yg amat memprihatinkan tsb ? Tidak lain bahwa Negara Islam layak berdiri karena kesadaran dan komitmen umatnya untuk menegakkan hukum Allah, menegakkan tauhid dan mencegah kemungkaran dan sekali lagi bukan karena motif perut dan uang.

Melihat pengorbanan para Sahabat, kita tentu patut malu karena banyak mengeluh ketika datang kesulitan dalam ketaatan. Padahal kesulitan yang kita alami belumlah seperti Rasulullah dan para sahabat yang mulia. Wallahua’lam

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar”. (QS. 3:142)



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah“. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS 2:214)

Artikel : eramuslim.com

*Disarikan dari teks materi ceramah Abu Hamzah Al Muhajir dengan judul Daulah Nabawiyah