Jumat, 28 Juni 2019

3 Tanda-tanda Hari Kiamat dari HR Bukhari

Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak akan datang hari kiamat, sampai kalian berperang melawan bangsa asing Khauzan dan Karman. Rajah mereka merah, hidung pesek, mata sipit, wajah tebal seperti martil dan sepatu mereka dari bulu."
(HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain dari 'Amr bin Taglhlib dikatakan,
"wajah mereka lebar."


Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak akan datang hari kiamat sampai keluar api dari Bumi Hijaz yang menerangi unta di Bashrah."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Rabu, 09 Maret 2016

Belum Lunasi Hutang, Jasad Dihimpit Bumi

Jangan pernah sekalipun meremehkan yang namanya hutang, karena hutang kalau belum terbayar, sampai mati pun masih tetap dianggap sedang berhutang.

Dikisahkan oleh Sayyid Ali, seorang ulama di zamannya. Beliau merupakan putra dari seorang ulama besar, seorang ahli fiqih yakni Al Amir Sayuid Hasan bin Al Amir Sayyid Muhammad.

Pada suatu hari, Saayid Ali yang tinggal di Iran, menimba ilmu, telah mendengar kabar berita duka. Ayahnya telah meninggal dunia sehingga ia meminta izin untuk mengurus jenazah ayahnya.


Tujuh bulan kemudian, giliran ibunya yang meninggal dunia dan di makamkan di daerah Najef, Irak.

Tak lama kemudian, Sayyid Ali bermimpi bertemu ayahnya. Dalam mimpimya, ia melihat seolah-olah sedang duduk di rumah dan ayahnya masuk sembari mengucapkan salam.

Sang ayahnya kemudin duduk din hadapannya sambil menyapanya dengan lemah lemubut.





Utang Tak Tercatat


Sayyid Ali sadar benar bahwa ayahnya sudah meninggal dunia. Ia pun bertanya kepada ayahnya,
"Ayah, bukankah ayah telah meninggal?"
Kemudian Syayyid Ali bertanya tentang keadaannya.

Ayahnya menjawab,
"Dahulu kuburku kesempitan, dan sekarang alhamdulillah dalam keadaan yang baik, kesempitan dan himpitan itu menghilang dariku."

Sayyid Ali heran dengan kejadian itu, dan dengan heran, ia bertanya lagi.
"Ayah dalam kesempitan?"
Ayahnya menjawab,
"Ya,arena Haji Ridha bin A'a Babasy Syahir menagihku, dan itu yang menyebabkan buruk keadaanku."

Sayyid Ali bertambah heran, lalu ia terbangun dari tidurnya dalam keadaan takut dan heran. Kemudian ia menginkan surat kepada saudara ayahnya tentang wasiat ayahnya dalam mimpi.

Dalam surat tersebut, Sayyid Ali bertanya apakah ayahnya dahulu memiliki hutang kepada orang tersebut atau tidak. Dan saudaranya menjawab dengan balasan surat juga.

Dalam surat balasannya, saudaranya mengatakan bahwa ia sudah memeriksa buku harian ayah, namun ia tak menemukan nama dari orang tersebut.

Sayyid Ali masih belum puas dengan jawaban saudaranya tersebut. Ia kemudian mengirim surat lagi untuk yang kedua kalinya yang isinya agar saudaranya menanykan langsung kepada orang yang bersangkutan.





Akhirnya di Ikhlaskan


Kemudian saudaranya membalas surat lagi.
"Setelah aku tanya kepada orang tersebut, ternyata memang benar ayah pernah berhutang kepadanya."
"Ya ayahmu pernah punya hutang kepadaku sebesar 18 tuman (mata uang Iran), dan tak ada yang mengethaui selain kami dan Allah SWT saja."

Setelah ayahmu wafat, aku pernah bertanya kepadamu, apakah namaku ada dalam daftar buku harian ayahmu, kamu menjawabnya tidak ada. Aku kecewa dan hatiku terasa sesak karena pernah meminjamkan uang tanpa ada bukti di secarik kertas dan aku yakin ia tidak mencatat namaku dalam buku hariannya.

Kemudian aku pulang dengan hati yang kecewa.

Kemudian saudaranya tersebut menceritakan kepada Haji Ridha tentang mimpi yang dialami oleh Sayyid Ali. Kemudian orang tersebut berkata,
"Karena berita ini dari saudaramu, sekarang hutangnya aku relakan dan aku ikhlaskan."

Waalahu A'lam...

Minggu, 06 September 2015

Kisah Orang Mati Hidup Lagi

Semua yang namanya makhluk pasti akan merasakan mati. Tapi hampir semua makhluk pasti takut akan datangnya mati. Bahkan bertemu malaikat maut pun merasa ketakutan.

Malaikat maut datang menjumpai makhluk untuk mencabut nyawa, semuanya atas perintah Allah SWT. Tak pernah sekalipun malaikat maut bertindak atas kemauaan sendiri.


Sering kita membaca berita yang heboh dan menghebohkan dimana ada orang yang mati, tapi bisa hidup kembali. Bukannya orang tersebut sakti, namun semua adalah sudah Kehendak Allah SWT.

Kisah orang mati lalu hidup lagi sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala, sebelum Nabi Musa as.

Ini ada kisah yang mengejutkan, orang ingin segera mati dengan tujuan agar lebih beriman kepada Allah SWT. Siapakah dia?
Dialah Nabi Idris as.

Kisahnya


Beliau, Nabi Idris as adalah seorang yang sanat alim dan dia senang bersahabat dengan malaikat Maut. Persahabatannya tersebut dilandaskan karena sama-sama iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada suatu hari, Nabi Idris as berkata kepada Malaikat Izrail,
"Wahai sahabatku, sebenarnya saya ingin sekali segera mati karena sayaingin merasakan bagaimana sakitnya ketika nyawa dicabut, agar keimanan saya bertambah."





"Wahai Nabiyullah, belum saatnya engkau mati, "ucap Malaikat Maut.

"Sesudah aku merasakan mati, kemudian berdoalah kepada Allah SWT agar saya diizinkan hidup kembali seperti sedia kala, "ujar Nabi Idris tanpa menghiraukan ucapan Malaikat Maut.

Mendengar penuturan Nabi Idris as tersebut, Malaikat Maut menjelaskan bahwa dirinya belum pernah mencabut nyawa sekakipun tanpa perintah Allah SWT.

Mati Hidup Lagi


Allah Maha Mendengar. Allah Maha Mengetahui.

Setelah itu, tiba-tiba saja turunlah wahyu dari Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Idris as.

Maka dicabutlah nyawa Nabi Idris as. Kematian Nabi Idris as telah membuat Malaikat Maut meraa amat sedih karena telah kehilangan sahabat karibnya itu.




Dalam kesedihannya, Malaikat Maut berdoa kepada Allah SWT agar Nabi Idris as dihidupkan kembali. Allah SWT mengabulkan doanya.

Dalam sekejap, Nabi Idris as hidup kembali.

Nabi Idris as kemudia berkata,
"Wahai sahabatku! Saya mengucapkan terima kasih kepadamu karena doamulah yang menyebabkan saya dihidupkan kembali oleh Allah SWT."

Demikianlah, Nabi Idris as bisa hidup kembali setelah mati.

Selang waktu berganti, beliau tetap alim dan menyebarkan agama Allah SWT di atas bumi. Dan pada waktunya nanti, beliau benar-benar dicabut nyawanya dan ditempatkan di surga.

Wallahu A'lam...

Senin, 12 Januari 2015

Protes Ruh Ketika Jasad Dimandikan

Ketika ajal menjemput, tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan. Dalam sebuah kitab karya Imam Abdirrahin bin Ahmad Al-Qadhiy, dijelaskan bagaiman sakitnya raga ketika ruh mulai dicabut. Hal ini diceritakan Rasulullah SAW kepada Aisyah ra.

Kisahnya

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, diceritakan bahwa suatu hari ia tengah duduk di dalam rumah dan mengucapkan salam, Aisyah ra berinisiatif untuk berdiri dan menyambut kedatangan kekasih Allah tersebut.
"Duduklah pada tempatmu, tidak usah berdiri wahai Ummul Mukminin, "begitu ucap Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW ikut duduk dan meletakkan kepalanya pada pangkuan Aisyah. Tak berapa lama kemudian Rasulullah SAW pun tidur terlentang. Pada saat itu Aisyah ra mencari uban yang ada jenggot Rasulullah SAW dan melihat 19 helai rambut yang memutih. Maka Aisyah pun menangis sehingga air matanya jatuh menetesi wajah Rasulullah SAW hingga akhirnya beliaupun terbangun daru tidurnya.

Dialog Rasulullah SAW dan Aisyah ra

"Wahai ummul mukminin, apa yang membuatmu menangis?"tutur Rasulullah SAW.
Maka Aisyah ra menceritakan apa yang ia rasakan setelah melihat uban-uban Rasulullah SAW tersebut.




"Tahukah kamu, keadaan apakah yang paling menyusahkan bagi mayit? "kata Rasulullah SAW.
"Tidak ada keadaan yang paling menyusahkan atas diri mayit daripada saat keluar dari rumahnya, anak-anak yang ditinggalkan berada di belakangnya, serta menangisinya, "kata Aisyah ra.
"Itu memang pedih, tapi masih ada lagi yang lebuh pedih dari itu, "sahut Rasulullah SAW.
"Tidak ada keadaan yang lebih berat atas diri mayit daripada saat dia dimasukkan dalam liang lahat dan dikubur di bawah tanah, para kerabat, anak dan kekasihnya meninggalkannya pulang. Setelah itu datanglah Malaikat Munkar dan Nakir dalam kuburnya, "ujar Aisyah lagi.

Rasulullah SAW tersenyum mendengar penuturan itu. Setelah itu beliau menjelaskan kepada bahwa sesungguhnya saat yang paling berat bagi mayit adalah ketika datangnya "Tukang Memandikan Mayit." Mereka mengeluarkan cincin dari jari-jari orang yang mati tersebut, melepaskan pakaiannya kemusian memandikannya.

Ketika itu, ruhnya memanggil saat melihat jasadnya telanjang dengan suara yang dapat didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia.



Tubuh Terbakar

"Apa yang diserukan oleh ruh itu ya Rasulullah? "tanya Aisyah.
"Hai tukang memandikan, demi Allah aku memohon kepadamugar engkau mencopot pakaianku dengan pelan-pelan, karena sesungguhnya saat ini aku sedang istirahat dari sakitnya pencabutan nyawa dari Malaikat Maut, "begitu ungkap Rasulullah SAW.
"Lalu apa yang diserukan lagi oleh ruh? "tanya Aisyah ra lagi.

"Hai tukang memandikan, demi Allah jangan engkau tuangkan air panas, jangan engkau gunakan air panas dan jangan pula air dingin, sesungguhnya jasadku telah terbakar sebab dicabutnya nyawaku, "papar Rasulullah SAW.
"Lalu ketika dimandikan, apa yang diserukan oleh ruh itu? "tanya Aisyah ra sekali lagi.

Dan ketika dimandikan, ruh itu berkata,
"Demi Allah, hai tukang memandikan, janganlah engkau pegang diriku terlalu kuat, sesungguhnya jasadku masih terluka karena keluarnya nyawa, "tutur Rasulullah SAW.

Astaghfirullah....semoga yang membaca artikel ini diberi wafat dalam keadaan Khusnul Khatimah, diberi ketenangan jiwa sampai hari kiamat nanti. Amiiin...

Kamis, 16 Januari 2014

Makam Ahli Puasa Dijaga Malaikat

Assalamu'aalaikum wr wb.
Apa kabar sahabat setia Kisah Teladan Islami dimanapun kalian berada..
Semoga kabar baik akan selalu menyertai kalian semuanya. Namanya ajal, rejeki dan jodoh, tak seorang pun yang akan mengetahuinya kecuali hanya Allah SWT.

Setiap orang tentu saja mengharapkan kenikmatan di dalam kuburnya ketika dia sudah meninggal dunia nanti. Salah satu cara untuk mendapatkan kenikmatan itu adalah dengan rajin berpuasa. Seperti kisah di bawah ini tentang jenazah yang dijaga oleh malaikat di dalam kuburnya.

Kisahnya

Di dalam sebuah riwayat yang berasal dari Sufyan As-Tsauri diceritakan bahwa ada seorang muslim yang telah mendapatkan kebahagiaan di alam barzah karena ia rajin berpuasa. Pada saat meninggal dunia, ia mendapatkan kenikmatan yang sangat luar biasa karena amalan-amalan ibadah selama hidupnya di dunia mampu menjaga dirinya.

Kejadian itu terjadi pada saat Sufyan AsTsauri tinggal di Makkah selama tiga tahun. Ketika itu, Sufyan salut melihat salah seorang penduduk Makkah yang bernama Abdullah. Pria itu memiliki kebiasaan beribadah yang sangat istiqomah. Selain istiqomah puasa sunnah, ia juga selalu datang ke Masjidil Haram pada waktu terik matahari, lalu melakukan tawaf dan shalat sunnah dua rakaat.

Ada Suara Malaikat

Sebelum pulang, ia biasa menyalami Sufyan sehingga diantara keduanya terjalin persahabatan yang sangat erat. Namun, pada siang hari yang terik, Sufyan tidak lagi menemukan Abdullah. Tentu saja hal itu membuat dirinya penasaran karena waktu sudah lepas dari shalat Ashar, namun sahabatnya itu tak kunjung datang ke masjid.

Rasa penasaran itu membuatnya selalu bertanya-tanya ada apa gerangan dengan Abdullah?
"Apa yang terjadi dengan sahabatku Abdullah?"
"Apakah dia sedang sakit?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk dalan hati dan pikiran Sufyan.

Berawal dari situlah akhirnya Sufyan mendatangi rumah Abdullah. Dugaan Sufyan ternyata benar adanya. Pada saat itu Abdullah sedang terbaring sakit di ranjangnya. Dalam kondisi yang sangat lemah tersebut, Abdullah memanggil sahabatnya untuk duduk lebih dekat dengannya sembari mengucapkan sesuatu.




"Apabila aku mati nanti, hendaklah kamu sendiri yang memandikan aku, menyalatiku, lalu kuburkan aku dan jangan kau tinggalkan aku sendirian di kuburan pada malam harinya. Talqinkanlah aku dengan kalimat tauhid ketika Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku," ujar Abdullah.

Sufyan pun menyanggupinya dan tak lama kemudian Abdullah meninggal dunia. Sufyan sangat sedih karena telah kehilangan sahabat karibnya itu. Meski demikian, Sufyan tetap sabar dan ikhlas sembari melaksanakan amanah yang disampaikan almarhum kepadanya. Ia merawat jenazah almarhum dengan memandikan, mengkafani, menyalati hingga ikut menguburkannya.

Berkat Puasa

Pada malam harinya, Sufyan juga menunggu seorang diri di atas makam sahabatnya itu sambil membacakan kalimat talqin. Beberapa saat kemudian, antara sadar dan tidak, Sufyan mendengar suara dari atas.

"Wahai Sufyan, orang tersebut tidak butuh penjagaanmu, tidak butuh talqinmu, tidaj juga butuh pelipur laramu karena aku telah mentalqinkannya dan memberinya kesenangan, "kata suara tanpa wujud itu.
"Dengan apa engkau menjaganya? "tanya Sufyan.
"Dengan puasa di bulan Ramadhan dan diikuti puasa 6 hari di bulan syawal," jawab suara itu.

Tak lama setelah dialog itu,tiba-tiba Sufyan terjaga dan tersadar. Ia kaget karena saat itu ia tidak melihat seorang pun di sekelilingnya. Sufyan masih ragu, apakah suara itu berasal dari malaikat atau setan yang berupaya menghasutnya. Oleh karena itu, Sufyan kemudian pergi untuk mengambil air wudhu, melaksanakan shalat, kemudian pergi tidur.

Anehnya, dalam tidur itu ia bermimpi sama persis dengan kejadian tadi. Bahkan mimpinya berulang hingga tiga kali. Hal itu membuat Sufyan yakin sekali bahwa suara itu berasal dar malaikat Allah, bukan dari setan. Ia juga mengerti bahwa sahabatnya itu telah mendapatkan nikmat kubur.

Sufyan pun berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, dengan anugerah dan kemuliaan-Mu, berilah aku taufik agar dapat berpuasa seperti puasanya sahabatku ini, amiiin."

Wa'alaikum salam wr wb.

Rabu, 22 Mei 2013

Detik-Detik Wafatnya Ibunda Nabi Isa as

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ketahuilah bahwa semua manusia, kelak pasti akan mengalami mati. Akan mengalami kehidupan di alam Barzakh.
Begitu pula dengan Maryam, ibu dari Nabi Isa as.
Di alam kubur, Maryam mendapatkan tempat yang nyaman.


Kisahnya

Nabi Isa as ini pernah merasakan kehilangan yang sangat luar biasa.
Bagaimana tidak, pada saat ibunda tercintanya meninggal, Nabi Isa as tidak berada di sisinya.

Maryam menghembuskan nafas terakhirnya di atas sebuah gunung.
Pada saat itu, Nabi Isa as merasakan kehampaan yang luar biasa. Sosok ibu yang sangat beliau sayangi dan selalu menjadi teman curhatnya telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Begitu sedihnya Nabi Isa as, hingga saat dirinya turun gunung untuk meminta bantuan kaum Bani Israil untuk mengurus jenazah ibunya, tapi tak seorang pun dari mereka yang bersedia membantu.
Nabi Isa as pun kembali naik ke atas gunung dimana jenazah ibunya berada.

Maryam Dimandikan Bidadari

Gelisah dan gelisah yang Nabi Isa as rasakan.
Namun tak lama setelah itu, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail agar tutun ke bumi dengan membawa serta bidadari untuk mengurus jenazah ibunda Nabi Isa as.




Setelah bertemu dengan para malaikat dan para bidadari, Nabi Isa as pun segera meminta pertolongan untuk memakamkan jenazah ibunya.
Saat itu, Malaikat Jibril berhadapan dengan Nabi Isa as dan berkata,
"Aku ini sebenarnya adalah Malaikat Mikail dan sahabatku ini adalah Malaikat Jibril. Aku sudah membawakan obat tubuh dan kain kafan dari Tuhanmu dan para bidadari cantik jelita sekarang sedang turun dari surga untuk memandikan dan mengkafani ibumu."

Begitu mendengar penuturan Malaikat Mikail tersebut, Nabi Isa as pun sangat bahagia.
Tak lama kemudian, Malaikat Jibril menggali kubur di atas gunung untuk makam Ibunda Nabi Isa as.

Ketika para bidadari telah sampai di bumi, mereka langsung memandikan dan mengkafani jenazah Maryam.
Setelah itu, jenazah Maryam dishalatkan kemudian dikuburkan.

Nabi Isa as pun berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mendengar kata-kataku dan tidak sedikitpun urusanku yang tersenbunyi dari-Mu. Ibuku kini telah meninggal, sedangkan aku tidak menyaksikan sendiri ketika dia wafat. Olah karena itu, izinkanlah dia (Maryam) berkata sesuatu kepadaku."





Maryam Bahagia Dalam Kubur

Tak lama setelah Ibunda Nabi Isa as dimakamkan, Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya Aku telah memberi izin kepadanya."

Mendengar Firman Allah SWT tersebut, Nabi Isa as pun langsung pergi ke makam ibunya.
Setelah sampai di makam, Nabi Isa as berkata,
"Assalamuualaiki ya ibu, bagaimanakah dengan tempat pembaringanmu dan tempat kembalimu dan bagaiman pula kedatangan Tuhanmu?"

Betapa Sakitnya Saat nyawa Dicabut

Maryam berkata,
"Tempat pembaringanku dan tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat, sedangkan aku menghadap kepada Tuhanku, aku tahu bahwa Dia telah menerimaku dengan rela."
"Wahai ibu, bagaimanakah rasa sakitnya mati?" tanya Nabi Isa as.

"Demi Allah SWT yang telah mengutusmu sebagai nabi dengan sebenar-benarnya, belum hilang rasa pedihnya mati aku rasakan hingga sekarang. Demikian pula rupa Malaikat Maut yang belum hilang dari pandangan mataku. Alaikassalam, wahai kasih sayangku sampai hari kiamat," jawab Maryam yang mengakhiri percakapannya.

Nabi Isa as pun merasa lega karena ibundanya telah mendapatkan nikmatnya kubur.

Nabi Isa pada detik-detik terakhir meninggalnya Maryam, beliau turun gunung untuk mencari kayu bakar dan makanan yang digunakan untuk berbuka puasa nantinya.
Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa Maryam meminta penundaan untuk mati sampai kembalinya Nabi Isa as. namun permintaan tersebut ditolak dengan tegas oleh Malaikat Maut.

Ibunda Maryam meninggal pada saat sedang menunaikan shalat, dikira Nabi Isa as, ibunya tengah menjalankan shalat hingga Nabi Isa pun turut juga melaksanakan shalat hingga pagi menjelang.
Setelah pagi inilah Nabi Isa as baru sadar, bahwa ibunya telah berpulang ke Rahmatullah.
Subhanallah....

Wassalamu'alaikum wr. wrb.